Perkembangan Teknologi Informasi (IT) yang begitu pesat dewasa ini telah memungkinkan manusia dapat dengan mudah dan cepat mengakses segala macam bentuk dan ragam informasi, dari berbagai sumber informasi seluruh dunia. Hal ini telah melahirkan banyak perubahan mendasar dalam kehidupan manusia; merubah cara manusia bekerja, belajar dan menjalankan pemerintahan, serta dalam melakukan kegiatan perdagangan maupun dalam mencari pekerjaan.
Kenyataan ini sangat kontras dengan keadaan masyarakat Aceh yang secara umum masih merupakan komunitas yang hidup dengan pola kerja tradisional. Masih sangat sedikit masyarakat Aceh yang sudah mampu menggunakan teknologi informasi dalam mempermudah pekerjaannya. Hal ini telah menyebabkan Aceh dalam segala hal lebih tertinggal dibandingkan daerah-daerah lain yang menjadi tetangganya. Pertumbuhan ekonomi menjadi lamban, mutu pendidikan kurang memadai serta pemerintahan yang tidak efisien. Timbulnya konflik bersenjata di Aceh selama puluhan tahun menambah parah situasi, yang menyebabkan ruang gerak masyarakat dalam segala aspek kehidupan menjadi sangat terbatas.
Ketika gempa mengguncang Aceh, diikuti terjangan tsunami yang meluluh lantakkan situs peradaban pesisir Aceh pada Minggu, 26 Desember 2004 lalu, masyarakat Aceh seperti kehilangan arah dan tujuan hidup. Bencana yang maha dahsyat ini telah menghentikan pergerakan di berbagai aspek kehidupan serta meninggalkan trauma yang berkepanjangan bagi masyarakat. Kondisi Aceh yang demikian, telah mendapat perhatian tidak hanya masyarakat Indonesia tetapi juga masyarakat internasional. Berbagai bentuk bantuan, baik tenaga relawan maupun bantuan dana yang sangat besar telah mengalir ke Aceh.
Kini lebih setahun sudah berlalu sejak bencana yang maha dahsyat itu terjadi. Namun, untuk mengoptimalkan upaya penanganan rekonstruksi Aceh setelah masa tanggap darurat selesai, masih harus diikuti dengan berbagai usaha lain yang tidak hanya sebatas pemenuhan kebutuhan hidup semata. Lebih jauh daripada itu, diperlukan juga usaha-usaha yang dapat meningkatkan kemampuan kemandirian dari masyarakat Aceh.
Kenyataan ini, ditambah lagi dengan semakin dekatnya batas waktu dimana dunia akan memasuki era globlalisasi, semakin menuntut kita secara bersama-sama untuk mampu mempersiapkan masyarakat Aceh, terutama generasi mendatang, dalam menghadapi kompetisi yang menyertai datangnya era negara tanpa tapal batas tersebut. Kompetisi yang akan dihadapi adalah antara bangsa-bangsa di dunia yang telah lebih dahulu terekspose dengan berbagai jenis informasi yang dengan mudah dapat mereka akses, cari, serta kumpulkan, tanpa mengenal batas-batas geografis suatu negara.
Pemikiran akan pentingnya hal tersebut diatas inilah yang telah menumbuhkan kesadaran para pendiri untuk membentuk Aceh Information Technology Development (AITD), sebuah NGO lokal yang berusaha meningkatkan sumber daya manusia dan kualitas hidup masyarakat agar dapat mandiri melalui pemanfaatan teknologi informasi (IT). Melalui misi-misinya, AITD bergerak untuk menggalang segenap swadaya yang ada dalam masyarakat untuk dapat mandiri, serta membangun kesadaran semua lapisan masyarakat untuk bersatu dan secara bersama-sama mampu mempersiapkan rakyat Aceh, terutama generasi mendatang guna menghadapi kompetisi yang menyertai datangnya era globalisasi melalui penguasaan Teknologi Informasi ini.
Sedikitnya ada tiga manfaat dari pengembangan IT di Aceh:
1. IT merupakan instrumen dalam mengoptimalkan proses pembangunan, yaitu dengan memberikan dukungan terhadap manajemen dan pelayanan kepada masyarakat.
2. Produk IT merupakan salah satu komoditas ekonomi, yang seperti halnya dengan ekonomi lainnya, yang mampu memberikan peningkatan pendapatan baik bagi perseorangan, dunia usaha dan bahkan negara dalam bentuk devisa hasil ekspor jasa dan produk industri telematika.
3. IT bisa menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Melalui pengembangan sistem informasi yang menghubungkan semua institusi dan area seluruh wilayah Aceh.








